Penggunaan bahan-bahan dari alam untuk mengatasi masalah kestabilan tanah sebenarnya sudah sejak berabad-abad yang lalu. Masyarakat di Babilonia, misalnya, membuat anyaman dari sejenis alang-alang untuk pondasi pembangunan ziggurat (kuil).
Adapun di Cina kuno, pada beberapa titik Tembok Cina, ditemukan dahan-dahan pohon, yang digunakan untuk memperkuat pondasi. Demikian pula di Kerala, India, ada kebiasaan masyarakat menggunakan daun kelapa sebagai pelapis tanah untuk konstruksi bangunan.

Dewasa ini, penggunaan bahan-bahan alami tersebut mulai digantikan oleh material produksi pabrik. Hal ini disebabkan material sintetis dapat divariasikan sedemikian rupa untuk memenuhi berbagai kebutuhan proyek yang berbeda-beda. Dan juga material tersebut dapat diproduksi dalam jumlah yang sangat banyak, guna memenuhi kebutuhan pasar yang semakin meningkat.
Geotextile sintetis pertama kali dipakai pada suatu proyek di Belanda pada tahun 1953, untuk mencegah masuknya air dari laut yang mengakibatkan banjir. Dari situlah, penggunaan material geotextile terus meningkat sampai saat ini. Tercatat, pada tahun 1970, konsumsi geotextile hanya sebanyak 10 juta meter persegi. Dibandingkan dengan tahun 2007, pemakaian geotextile sudah mencapai 2500 juta meter persegi.

Konsumsi geotextile terbanyak masih berada di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat, Kanada, Eropa Timur, Jepang dan Australia. Namun perlahan-lahan di negara berkembang pun mulai menggunakan geotextile setelah banyaknya penelitian intensif dan contoh-contoh proyek yang sukses menerapkan geotextile.
